A. Fungsi Firewall pada Jaringan Komputer
Teknologi firewall saat ini sudah canggih. Jika sebelumnya, cara kerja firewall adalah menyaring lalu lintas jaringan yang menggunakan alamat IP, nomor port, dan protokol. Namun, saat ini firewall dapat menyaring data dengan mengidentifikasi pesan konten itu sendiri. Dengan bantuan Firewall, informasi sensitif atau tidak layak dapat dicegah melalui interface.
Guna mengatur lalu lintas perpindahan data komputer dan internet, firewall dapat menggunakan salah satu atau gabungan dari dua metode yaitu Metode Packet Filtering dan Inspeksi Stateful.
a. Service Control (Kendali Terhadap Layanan)
b. Direction Control (Kendali Terhadap Arah)
c. User Control (Kendali Terhadap Pengguna)
d. Behavior Control (Kendali Terhadap Perlakuan)
8. Firewall Policies
Salah satu tugas firewall adalah melindungi dan memutuskan untuk memblokir lalu lintas jaringan. Salah satu contoh kebijakan firewall (firewall policies) dalam melindungi lalu lintas jaringan dari serangan peretas yakni dengan Demilitarized Zone (DMZ). Demilitarized Zone merupakan mekanisme untuk melindungi sistem internal dari serangan hacker atau pihak-pihak lain yang ingin memasuki sistem jaringan tanpa mempunyai hak akses.
Firewall memiliki beberapa fungsi untuk melindungi jaringan komputer, yaitu:
a. Sebagai pos keamanan jaringan.
b. Mencegah informasi berharga bocor tanpa sepengetahuan.
c. Mencatat aktivitas pengguna.
d. Memodifikasi paket data yang datang.
e. Mencegah modifikasi data pihak lain.
9. Keuntungan dan Kelemahan dari Firewall pada Jaringan Komputer
a. Keuntungan Menggunakan Firewall
1. Firewall merupakan fokus dari segaka keputusan sekuritas.
2. Firewall dapat menerapkan suatu kebijaksanaan sekuritas.
3. Firewall dapat mencatat segala aktivitas yang berkaitan dengan alur data secara efisien.
4. Firewall dapat digunakan untuk membatasi penggunaan sumber daya informasi.
b. Kelemahan Menggunakan Firewall
1. Firewall tidak dapat melindungi network dari serangan koneksi yang tidak melaluinya ( terdapat pintu lain menuju network tersebut).
2. Firewall tidak dapat melindungi dari serangan dengan metode baru yang belum dikenal oleh Firewall.
3. Firewall tidak dapat melindungi dari serangan virus.
10. IPTables pada Jaringan Komputer
IPTables adalah tools atau alat yang digunakan pada sistem operasi Linux yang berfungsi sebagai alat untuk melakukan penyaringan atau filter terhadap lalu lintas atau traffic data dalam sebuah server. Secara sederhana, IPTables digambarkan sebagai pengatur lalu lintas data. Jadi, IPTables ialah suatu firewall yang membatasi sebuah lalu lintas keluar dan masuk atau sekadar mengawasi traffic yang melewati komputer.
11. IP Firewall pada Jaringan Komputer
Salah satu ciri dari firewall dengan IP Firewall adalah pembacaan rule-nya akan dimulai dari atas ke bawah. Apabila ada traffic yang sudah sesuai dengan rule firewall di bagian atas maka sistem akan mengeksekusi tanpa membaca atau membandingkan dengan rule di baris berikutnya.
Adapun format IP Firewall, yaitu sebagai berikut:
CMD RULE_NUMBER ACTION LOGGING SELECTION STATEFULL
a. CMD = /sbin/ipfw
b. RULE_NUMBER = 0001, 0002, 0003, 0004, dst
c. ACTION = pass, permit, allow, accept, deny, atau drop
e. SELECTION = tcp, udp atau icmp (daftar protokol ada di /etc/protocols). from src to dst, port number, in out, via IF.
f. STATEFULL = optional
12. Intrusion Detection System(IDS) pada Jaringan Komputer
Intrusion Detection System(IDS) merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mendeteksi aktivitas yang mencurigakan dalam sebuah sistem atau jaringan. Intrusion adalah segala aktivitas yang bersifat mengganggu integritas, konfidensialitas, dan/atau ketersediaan dari resource atau informasi yang terdapat di sebuah sistem jaringan komputer. Intrusion Detection System(IDS) akan memonitor traffic data pada sebuah jaringan atau mengambil data dari berkas log. IDS dengan algoritma tertentu akan memutuskan untuk memberi peringatan kepada seorang administarotor jaringan atau tidak. IDS dapat melakukan inspeksi terhadap lalu lintas komunikasi data dalam sebuah sistem atau jaringan, melakukan analisis dan mencari bukti dari percobaan penyusupan (termasuk kategori penyusupan atau tidak), dan terkadang memberikan penanganan terhadap gangguan yang terjadi. Pendeteksian dilakukan IDS agar memblok gangguan jika segera dideteksi, bertindak sebagai deterrent (mencegah seseorang melakukan gangguan atau Intrusion), dan mengumpulkan informasi untuk meningkatkan keamanan.
a. Tipe Dasar IDS
1) Rule-based system, yaitu salah satu tipe IDS yang mempergunakan database sebagai tanda penyusupan atau serangan yamg telah dikenal. Jika IDS mencatat lalu lintas yang sesuai dengan database yang ada maka langsung dikategorikan sebagai penyusupan. Tipe dasar IDS inilah yang sering digunakan untuk komputer secara umum. Pendekatan yang digunakan dalam Rule-based system ada dua, yaitu pendekatan pencegahan (preemtory) dan pendekatan reaksi (reactionary). Perbedaanya hanya masalah waktu saja.
2) Adaptive system, yaitu salah satu tipe IDS yang mempergunakan metode yang lebih canggih. Tidak hanya berdasarkan database yang ada, tetapi juga membuka kemungkinan untuk mendeteksi terhadap bentuk-bentuk penyusupan yang baru.
1) Network-based Intrusion Detection System (NIDS), adalah jenis IDS yang bertanggung jawab untuk mendeteksi serangan yang berkaitn dengan jaringan. NIDS umumny terletak di dalam segmen jaringan penting dimana server berada atau terdapat pada "pintu masuk" jaringa. Kelemahan NIDS adalah NIDS agak rumit diimplementasikan dalam sebuah jaringan yang menggunakan switch ethernet, meskipun beberapa vendor switch ethernet sekarang telah menerapkan fungsi IDS di dalam switch buatannya untuk memonitor port atau koneksi.
2) Host-based Intrusion Detection Systems (HIDS), Umumnya diletakkan pada server-server kritis di jaringan seperti halnya firewall, web server, atau server yang terkoneksi ke internet.
c. Cara kerja IDS
Menggunakan pendeteksian berbasis signature (seperti halnya yang dilakukan oleh beberapa anti virus), yang melibatkan pencocokan lalu lintas jaringan dengan basis data yang berisi cara-cara serangan dan penyusupan yang sering dilakukkan oleh penyerang. Sama seperti halnya anti virus, pendeteksian jenis ini membutuhkan pembaruan terhadap basis data signature IDS yang bersangkutan.
Metode IDS selanjutnya adalah mendeteksi adanya anomali, yang disebut sebagai anomali-based IDS. Metode ini melibatkan pola lalu lintas yang mungkin merupakan sebuah serangan yang sedang dilakukkan oleh penyerang.
Teknik lain yang digunakan dalam cara kerja IDS adalah memantau berkas-berkas sistem operasi, yakni dengan cara melihat apakah ada percobaan untuk mengubah beberapa berkas sistem operasi, utamanya berkas LOG.